Budidaya Udang Vanname – Semi Intensive

Budidaya udang vanname pola semi intensive adalah peningkatan dari budidaya pola extensive dimana dengan peningkatan padat tebar dari 2-10 ekor/m2 menjadi 10-50 ekor/m2 maka dibutuhkan perhatian lebih akan kebersihan lingkungan, supply pakan yang lebih maksimal dan supply oksigen (aerasi).

Secara umum pola budidaya semi intensive hampir sama dengan pola budidaya extensive/tradisional dalam hal pengolahan lahan sebagai persiapan hingga penebaran dan pemeliharaan. Beberapa persamaan dan perbedaan dari kedua pola budidaya ini adalah sebagai berikut:

Jenis konstruksi tambak

Konstruksi tambak bisa sama persis dengan lahan tambak tradisional baik dari segi ukuran maupun bentuknya. Biasanya petambak semi intensif memang beangkat dari petambak tradisional yang ingin meningkatkan produksi tambaknya. Selain dapat menggunakan tambak tradisional sebagai langkah awal, beberapa petambak juga memodifikasi konstruksi tambak tradisional dengan menggunakan plastik maupun terpal sebagai pelapis tambak. Selain itu mereka juga mulai mengurangi ukuran petak tambak menjadi lebih kecil dari ukuran tambak tradisional yang cenderung besar dan tidak efisien dalam pengelolaan.

Persiapan Lahan

Persiapan lahan sampai dengan penebaran, pemeliharaan dan panen hampir sama persis dengan pola tambak tradisional. Adapun beberapa perbedaan yang membedakan kedua pola budidaya tersebut adalah sebagai berikut:

Penggunaan Biosecurity

Dalam pola semi intensive penggunaan biosecurity sebagai pengaman dari predator pemangsa dan sebagai carrier pembawa virus/bakteri juga sudah mulai diterapkan.

Penggunaan Aerasi

Seiring dengan berkurangnya ukuran tambak yang digunakan dan dengan bertambahnya padat tebar per meter persegi, maka penggunaan aerasi sudah mulai mutlak diperlukan. Namun demikian berhubung angka kepadatan tebarnya masih dalam range moderate maka penggunaan aerasi sebagai penambah pasokan oksigen terlarut dalam air masih dilakukan sesuai dengan kebutuhan minimal. Sebagai gambaran, aerasi hanya dijalankan pada saat menjelang sore hari hingga pagi hari dimana pada saat itu sinar matahari sudah mulai berkurang sehingga pasokan udara alamiah sebagai hasil fotosintesis dari plankton tidak ada. Pada saat siang sampai sore hari aerasi dapat dimatikan untuk menghemat listrik atau penggunaan bahan bakar. Teknologi aerasi yang digunakan juga umumnya masih sederhana dimana penggunaan kincir berangkai dengan memanfaatkan gardan bekas sebagai as penggerak kincir dan beberapa modifikasi penggunaan bahan bakar gas untuk memperkecil biaya operasional.

Penambahan dosis pakan

Dibandingkan dengan pola tradisional, maka dalam pola semi intensif penambahan dosis pakan mutlak diperlukan, hal ini juga terkait dengan penggunaan lahan yang semakin mengecil. Pada pola tradisional, lahan yang digunakan sangat luas sehingga dengan perbandingan padat tebar yang ada, udang masih mendapat pasokan makanan alamiah berupa plankton yang ada ditambak. Namun dengan pola semi intensif, maka penambahan dosis pakan adalah suatu keharusan.

Penerapan SOP yang belum terlalu ketat

Didalam pola semi intensif, petambak sudah diperkenalkan dengan SOP mengenai cara budidaya ikan/udang yang baik, hal ini terkait dengan pengawasan, pemeriksaan kualitas air, kebersihan lingkungan dan standarisasi operasional. Hal ini sangat bermanfaat jika suatu saat petambak akan beralih ke pola yang lebih intensif karena sudah terbiasa dengan SOP yang diterapkan.